Nubuat Cinta Rabi'ah Al Adawiyah

CURENT ISSUE - Sun, 14 April 2019, 4:04 pm - Editor: asrori
Rabi'ah Al Adawiyah (ilustrasi)

Pada mulanya iman dimulai dengan sunyi, ia terhampar di malam dingin, gigil di tengah pencarian Zat yg maha suci, kadang menyasar pada bayang2 semu.

Tahajud adalah momen paling kultis mendekap sunyi, sembari menjamah yg maha suci. Iman sunyi ini pada akhirnya bertemu dengan cinta yg tak terbatas. Hanya kepada yg abadi itulah cinta layak disemat, meski titik puncak pencariannya penuh getir.

Iman dan cinta pada yg suci itu melampaui cinta pda yang nisbi, pada idola, apalagi pada benda. Karena itu iman yg sejatinya sepi terdegradasi ketika manusia jatuh ke dunia, sebagaimana perumpamaan Adam dan Hawa. Ya... Pada akhirnya iman dan cinta akan bersatu menjadi putih, seputih hati yang bersih.

Namub manusia sudah terlanjur jatuh terhampar di garis katulistiwa, iman pun tak lagi sunyi, ia berubah jadi riuh, bertukar tangkap dalam hasrat. Bergumul bersama godaan hidup, meruncingnya sentimen, meluasnya keinginan hingga pda akhirnya membuat Rabiah Al Adhawiyyah mengambil jalan muqso, sebuah jalan penyatuan yg putih, seputih hati untuk mencintai tuhan seutuhnya.

Tapi seutuh-utuh jiwa manusia, tetaplah manusia. Di tengah kenisbian itu manusia dianjurkan tetap terjaga dari imannya yang sudah riuh. Semoga kita disatukan oleh putihnya kalbu!!! Selamat hari tenang.