Kibaran Sarung KH. Ma'ruf Amin

INSPIRASI - Sat, 17 November 2018, 4:59 pm - Editor: Ahmad Mahromi
KH Ma'ruf Amin

Saya berada dalam barisan yang terperanjat saat Presiden Joko Widodo memutuskan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presidennya. Tapi, tak seperti mereka yang langsung memutuskan pindah dukungan ke kubu Prabowo dan atau memilih golput,
saya berusaha untuk adil sejak dari benak--memberi kesempatan KH Ma'ruf Amin memamerkan gebrakan-gebrakan politiknya terlebih dulu.

Sembari menunggu, saya mengamati kekhasan-kekhasan KH Ma'ruf Amin yang membuatnya berbeda dari Presiden Joko Widodo, maupun Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.  Pernyataan mengejutkan KH Ma'ruf Amin diawal-awal sejak dirinya resmi menjadi Cawapres Jokowi adalah saat beliau bertekad untuk tetap memakai sarung.

 “Insya Allah saya akan tetap memakai sarung sebagai identitas pesantren, Insya Allah saya akan jadi Wapres pertama yang mengenakan sarung". Ujar KH Ma’ruf Amin tak lama setelah beliau ditetapkan sebagai cawapres.

Pernyataan KH Ma'ruf Amin menyiratkan  kesadaran bahwa busana bukan sekada sarana untuk menutupi sekujur tubuh dan atau gaya belaka. Busana, dalam hal ini sarung, menjadi perlambang bagi suatu konteks sosial-budaya, komunitas,  bahkan sebuah pandangan  dunia tertentu--dunia pesantren.

Gaya busana seseorang banyak ditentukan oleh lingkungan sekeliling di keseharian. Sarung lazim dikenakan para santri di pesantren. Sarung, dipadupadan dengan kemeja dan peci hitam, adalah busana wajib para santri di pesantren seluruh pelosok Nusantara.

Sarung juga identik dengan kebersahajaan sebagaimana sering ditampilkan oleh kyai kampung yang saban hari disibukkan dengan kegiatan mengajar ngaji, mendengar keluh kesah warga, hingga mencari solusi aneka persoalan di kampung; urusan mata pencarian, jodoh, acara keagamaan, dan lain sebagainya.

Secara tak langsung KH. Ma'ruf Amin lewat cara berpakaiannya sedang melancarkan perlawanan, terhadap gaya busana saingannya terutama Sandiaga Uno, yang lekat dengan citra kekinian lantaran kerap berdandan khas  kalangan urban kelas menengah yang casual, modis, trendi, lengkap dengan pelembab bibir.

Kendati demikian, KH Ma'ruf Amin tak hanya nyaman mengenakan sarung. Ia juga selalu mengenakan peci hitam, jas, serta sorban. Sarung menandakan komunitas santri dan kyai, peci melambangkan cinta tanah air, dan jas, selain menyimbolkan kemodernan, juga menyiratkan kosmopolitanisme.

"Itu menggambarkan kiai Indonesia, kiai nusantara. Jadi saya semacam model, yaitu pakai kain, pakai jas, pakai sorban, tapi juga pakai peci. Jas itu simbol kemoderenan dan peci sebagai ke-Indonesiaan," ujar KH. Ma'ruf Amin baru-baru ini.  

Jika dulu cendikiawan muslim Nurcholish Madjid lekat dengan gagasan-gagasan besar seputar keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan, maka KH Ma'ruf Amin barangkali adalah penjelmaannya yang paling verbal. Paling bisa diamati dengan mata telanjang.

Dengan penampilannya yang konsisten, KH Maruf Amin terus bergerak  melakukan safari politik baik di dalam maupun luar negeri. Malaysia dan Singapura adalah dua negara tetangga yang paling awal dikunjungi KH Ma'ruf Amin.

Singapura dianggap sebagai gerbang Asia Tenggara menerima nyaris seluruh unsur yang datang dari Barat. Sementara itu, Malaysia identik dengan kultur Melayu yang pekat.  Di Malaysia, saat bertemu PM Mahathir Muhammad dan Singapura berjumpa PM Lee Hsien Loong, KH Ma'ruf Amin selalu sarungan. Kepada dunia, khususnya kawasan Asia Tenggara, KH Ma'ruf Amin mengenalkan sarung nusantara.

KH Ma'ruf Amin dengan kibaran sarungnya seolah sedang mengusung arus baru, perubahan dalam kehidupan sosial, politik, juga budaya di tanah air.

Sebuah perubahan, kata Alvin Toffler pada 1970, adalah proses-proses melalui mana masa depan menginvasi kehidupan kita, dan proses tersebut penting dilihat dari dekat, bukan semata dari  sudut pandang sejarah yang luhur, melainkan juga dari cara-cara khusus tertentu (vantage point) dalam kehidupan personal.

-( CU )-