Kerak Telor:  Pizza dengan Cita Rasa Betawi

Kerak Telor: Pizza dengan Cita Rasa Betawi

Pizza buatan Italia biasa kita jumpai di berbagai gerai waralaba (franchise) di sudut-sudut kota. Tapi pizza dengan cita rasa Betawi yang satu ini sulit kita jumpai saat ini. Makanan berbahan dasar ketan putih dan telur ini hanya ada di tempat dan acara-acara khusus.

Kerak telur. Penduduk asli Jakarta dan para penggila kuliner pasti tak asing dengan menu khas Betawi itu. Tak ada yang bisa memastikan kapan makanan itu mulai dibuat di daerah asal Si Pitung ini. Di setiap acara pagelaran seni, pernikahan, maupun berbagai festival budaya di Jakarta, Kerak Telur tak pernah absen sebagai salah satu menu jajanan utama.

Dengan gerobak pikulan yang khas dan berbagai alat masak tradisional, para pedagang Kerak Telur mengadu nasib di tengah berbagai jajanan modern khas waralaba.      

Hidayat, salah satunya. Pria berumur 42 tahun ini telah menjajakan kerak telur sejak tahun 1986. “Saya dulu ikut engkong (kakek, red.) jualan. Ilmu dan resepnye turun-temurun,” ujarnya, dengan logat Betawi yang kental.

Ia menuturkan bahwa kerak telur buatan orang Betawi memiliki cita rasa tersendiri. Beda dengan yang dibuat orang lain. “Pokoknye beda deh. Coba aje rasain. Apalagi kalau pake telor bebek, lebih gurih,” akunya.      

Dayat biasanya menjual kerak telur seharga Rp 15 ribu-25 ribu. “Tergantung tempatnya. Kadang-kadang sih bisa ditawar, apalagi kalau lagi sepi,” paparnya.  

Selain untuk mengais rezeki, pria yang tinggal di bilangan Buncit, Jakarta Selatan ini, berdagang kerak telur untuk melestarikan budaya. “Sekarang kan udah jarang yang beginian. Itung-itung ngerawat budaye,” imbuhnya.

Pusat pembuatan kerak telur, katanya, terletak di Buncit 10. Hampir tiap rumah produksi kerak telur. “Nggak kehitung banyaknya tukang kerak telor di situ. Kebanyakan sih orang Betawi. Ada juga di Pejaten dan Duren Tiga. Tapi pusatnya ya di Buncit 10 itu,” katanya.

Sejak 1986, pria murah senyum ini, telah berkeliling ke berbagai daerah untuk menjajakan kerak telur buatannya. “Kite udah keliling ke mane-mane: Kerawang, Banten, Puncak, Sentul, Bekasi. Istilahnya ngayap,” ulas Dayat, sapaan akrabnya.

Dengan mengendarai dua sepeda motor, Dayat bersama temannya memboyong gerobaknya. Mereka menapaki sudut-sudut kota untuk mencari tempat strategis untuk mangkal. “Kite juga sering mangkal di Klenteng Cina. Di situ biasanya rame. Orang Cina kan juga pada doyan kerak telor,” ujarnya.    

Setiap Sabtu-Minggu, Dayat biasanya mangkal di Setu Babakan, tempat wisata Betawi. “Kampung Betawi itu kan emang tempat wisata. Apalagi tiap Setiap Sabtu-Minggu rame di situ,” tuturnya.  

Sore itu, senja mulai merambat. Dayat pun mulai menyiapkan lampu semprong untuk menerangi dagangannya.    

Resep Membuat Kerak Telur  

Memasak kerak telur terbilang unik. Pasalnya, ia sama sekali tak menggunakan minyak goreng maupun margarin.

Ketan beras yang telah direndam lalu dimasukkan di atas wajan bergagang kayu. Kemudian diaduk membentuk bulatan hingga kering. Setelah mengering dan menjadi kerak, wajan dibalik. Beras ketan dihadapkan langsung pada anglo, tungku pembakaran arang, agar matangnya merata.

Setelah itu ketan ditaburi ebi (udang kecil kering), cabe giling, lada, garam, penyedap rasa, dan bawang goreng. Campuran ini diaduk sampai rata lalu ditambah serundeng, kelapa yang sudah disangrai dengan bumbu jahe, kencur, kunyit, bawang merah, cabe merah, dan gula, hingga berwarna coklat.

Telur ayam atau bebek dimasukkan paling akhir. Lalu semua adonan itu diaduk membentuk telur dadar yang bulat. Semua proses ini hanya makan waktu tidak lebih dari lima menit.

Menikmati kerak telur lebih enak ketika masih hangat. Renyah dengan sedikit pedas dengan kepulan asap beraroma. Harum rempah-rempahnya begitu eksotik. Apalagi ditemani dengan secangir teh atau kopi hangat. Begitu lengkap nikmatnya.*** (aer)

0 Reviews

Write a Review

sailacitra

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *