Karomah KH. Ma'ruf Amin Lumpuhkan Setan Hoax

CURENT ISSUE - Thu, 11 April 2019, 10:38 am - Editor: asrori
KH Ma'ruf Amin dalam kampanye terbuka di Lapangan Marzuki Mahdi, Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/4/2019). 
Sejak didapuk sebagai Cawapres Joko Widodo, Kiai Ma'ruf Amin, mungkin boleh dibilang sempat diremehkan, bahkan oleh kalangan internal koalisi. Ada banyak isu yang berseliweran, mulai dari usia yang sudah sepuh, hingga isu keterpaksaan Jokowi memilih sang Kiai.

Tapi isu pada akhirnya hanya tinggal isu, sebab kenyataannya justru terbalik. Kehadiran sang Kiai bukan saja hanya signifikan mendongkrak suara, membentengi isu miring ihwal Jokowi yang sudah menyebar melalui berita hoax.

Dengan pesona, kharisma dan ketokohan sebagai ulama yang tak diragukan lagi, Kiai asal Kresek Tangerang yang masih keturunan ulama kharismatik, Syeikh Nawawi itu justru mampu memunculkan kejutan. Mulai menepis isu remeh temeh, soal usia yang rapuh, hingga menepis keraguan jika Sang Kiai mampu mereguk suara.

Buktinya dari sisi stamina, Sang Kiai masih tetap stabil mengikuti sejumlah titik kampanye, adaptasinya dengan kalangan milenial kian mantul, energinya malah melampaui kaum muda.

Omongan miring jika sang kiai sepuh itu rapuh seolah mampu ditepis sebaliknya. Makin sepuh, sang kiai justru makin ampuh. Analoginya sebenarnya mudah kalau soal ini, orang awam saja bisa mafhum, orang kalau sudah sepuh biasanya makin rajin, makin getol ibadah, lihat saja di kampung-kampung, siapa yang paling rajin adzan subuh, yang muda apa kakek-kakek yang sudah senja. 

Tak hanya sebatas ukuran fisik saja Sang Kiai sudah beri bukti, tapi kharismanya menyebar, mempengaruhi pemilih, yang tak terduga bahkan hingga yang milenial. Kematangan emosi dan integritas sebagai ulama politisi bahkan makin teruji. 

Seorang Yusril Ihza Mahendra yang sempat dekat dengan koalisi Prabowo saja bisa balik arah melirik, karna pilihan Jokowi dinilai rasional dan mengejutkan. "Saat kondisi bangsa seperti sekarang, sosok ulama seperti Kiai Maruf sangat dibutuhkan, apalagi keulamaannya tidak bisa diragukan", tegas Ketua Umum PBB, dalam sebuah forum silaturahim para kiai se-Indonesia kemarin, di Ponpes Asshiddiqiyyah, Batu Ceper, Tangerang.

Bukan saja Yusril yang akhirnya mantap, sejumlah tokoh agama, seperti ustad Yusuf Manshur, hingga kiai-kiai kampung belakangan kian mantap merapat karena pengaruh ketokohan kiai Ma'ruf.

Para analis bahkan mengaku terkejut dengan pola dan cara sang Kiai yang tanpa lelah terus mempengaruhi pemilih, Sang Kiai bukan saja bisa masuk ke jaringan kiai, santri dan warga yang semula ragu pada Jokowi, bahkan ia mampu membalikan mereka yang semula menolak Jokowi karena citra buruk yang diuber melalui media sosial.

Maka tak heran jika beberapa survey mengakui pengaruh ketokohan dan kharisma sang kiai benar-benar mampu membentengi Jokowi dari serangan fitnah dan berita hoaks hingga mengkatrol suara Jokowi yang sempat remuk di beberapa daerah yang sempat termakan isu hoax.

Dengan pengaruh dan kerja kerasnya, sang Kiai bahkan terus menyerukan agar seluruh elemen masyarakat berjuang melawan hoaks, hasilnya cukup mengajutkan. Karena kali ini yang bicara melawan hoax bukan politisi karbitan atau orang dekat Jokowi, tapi sang kiai yang punya dalil, yang terbiasa bicara berlandaskan quran dan hadist. Saat seruan itu muncul, serentak rakyat pun makin percaya. Apalagi berita hoax yang dibuat lama-lama makin liar dan tak masuk akal. 

Di daerah kelahirannya saja Banten misalnya, yang notabene di tahun 2014 Prabowo menang 4 persen, saat ini situasinya berubah. Orang-orang yang semula diam-diam mendukung Jokowi, saat ini sudah terang-terangan mendukung Jokowi-Maruf. Mereka tergugah dengan kharisma dan ajakan sang kiai yang sudah tak diragukan lagi keulamaannya. 

Mereka umumnya percaya pada sikap tulus dan kebaikan yang disampaikan. Mereka sudah mulai membaca mana pemimpin yang mencitrakan diri gagah, tapi pemarah, dengan pemimpin yang tampil dengan wajah teduh dan tulus.

Jadi, adagaium kullu syaiin idza katsuro rokhuso illal adab, barangkali benar. Segala sesuatu jika sudah kebanyakan atau kelewat batas, itu hanya akan jadi murah, malah bisa jadi hanya masuk tong sampah. Kecuali adab dan kebaikan.

Jadi apapun isu miring yang digilirkan, jika terlalu gencar disebarkan, apalagi tanpa fakta dan kenyataan, lama kelamaan hanya akan membuih di ruang semu. Maka di tengah serangan kampanye negatif, apalagi black campaign, lama-lama masyarakat akan muak. Apalagi kalau Sang Kiai sudah bilang, tunjukan sikap rahim sesama manusia, lawan hoaks. Niscaya bukan hanya kiai-kiai, santri yang mengikuti tapi masayakat biasa. Sebab di kalangan nahdhiyyin, makin sepuh sang kiai makin sakti omongan dan tindakannya. Salam, Kopi Pagi Saila.